RINDU MUDIK : "rindu kembali ke asal usul"

on Jumat, 11 Juli 2014

Pepatah Niniak dulu mengatakan: "Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya akan kembali ke sarangnya".
Hal ini terasakan sekali pada saat menjelang hari raya Idu Fitri (Lebaran), dimana banyak sekali orang kejangkitan penyakit "Rindu Mudik". Rindu Mudik ini bukan hanya dirasakan oleh umat Muslim saja melainkan oleh hampir semua orang Indonesia yang berada dirantau, entah ia berada di New York, Amsterdam, Hongkong maupun di Jakarta atau kota-kota besar lainnya, tidak terkecuali kami di Kota Medan Sumut. Rasa rindu yang dirasakan oleh mereka yang tinggal di Hong Kong maupun di Jakarta ataupun kami di Kota Medan sama saja yang beda hanya jaraknya saja.

Pada saat kita rindu mudik, kita teringat akan kampung halaman dan orang-orang yang kita kasihi, hal ini membuat kita jadi sedih dan sakit. Kita teringat akan kampung halaman, orang tua, masa-masa yang indah diwaktu kecil. Pada saat kita masih kecil, mungkin kita harus hidup dengan segala keterbatasan, tetapi kalau bagi saya masa tersebut adalah masa yang paling indah di dalam kehidupan saya. Ingatan saya ketika masa tersebut adalah: "Woouooo…w…..fantastic. it"s wonderfull, if we wanna to remember our childhood !"

Mungkin anda masih ingat ketika masa sekolah di sekolah SD, SMP, nonton layar tancap, mancing ikan, bermain di sawah nenek, bermain diwaktu hujan turun. Memang kalau dibandingkan dengan permainan anak-anak jaman sekarang, ini tidak ada apa-apanya, tetapi bagi saya ini masa tersebut mempunyai nilai yang sangat indah dan tak terlupakan.

Kata Mudik diserap dari kata "UDIK" yang berarti desa atau jauh dari kota alias di udik. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita oleh sebab itu entah anda tinggal dirumah mewah yang bernilai ratusan milyar Rp ataupun bermukim di Amsterdam ataupun Hollywood sekalipun, ini tidak akan bisa menggantikan suasana seperti rumah di kampung halaman sendiri, walaupun itu di udik sekalipun juga. Jadi tepatlah pada saat kita sedang rindu mudik, kampung halaman itu bagi kita sama seperti juga "surga". Pada saat tersebut saya merasa iri terhadap mereka yang bisa pulang mudik ke kampung halamannya.

Mungkin anda bisa merasakan kehidupan yang jauh lebih nyaman dan lebih berlimpah ruah di tanah orang, tetapi materi tidak akan bisa menggantikan maupun mengisi kekosongan maupun kesepian diri dan batin kita. Semakin lama anda berada ditanah orang semakin terasakan kekosongan jiwa kita, sama seperti juga HP yang kehabisan battere.

Pada saat kita mudik, kita bisa nge-charge kembali batin dan kekosongan jiwa kita. Kita bisa mendapatkan kembali siraman-siraman rasa kasih dari orang-orang disekitar kita untuk mengembalikan kembali kegersangan, kekosongan maupun kesepian hidup kita dirantau. Sama seperti juga pada saat mengisi battere; ini tidak harus berbulan-bulan walaupun hanya seminggu atau beberapa hari sekalipun juga, hal ini sudah dapat mengembalikan kembali keseimbangan jiwa kita.

Entah anda ini seorang pejabat tinggi, direktur maupun pengusaha, ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody atau sekedar nomor saja, tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.
Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi.
"Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di kota. Di kampung halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan kita lagi".

Para perantau yang mengadu nasib di kota-kota maupun di luar negeri pada hari Lebaran dapat bertemu dengan sanak saudara, keluarga, serta kerabat di tempat kelahirannya. Rasa haru mewarnai ajang tali silaturahmi, karena mereka selama satu tahun atau lebih berpisah kini dapat berkumpul, bercengkerama, bersendau gurau, serta melepas rindu antar saudara dan kerabat. Dari silaturahmi ini, timbullah rasa kebersamaan, kekeluargaan persatuan dan kesatuan, sehingga dapat merasakan kembali hidup dalam kerukunan, atau rukun dalam kehidupan. Pada saat mudik; kita bisa menjaga silaturahim dengan kerabat di kampung halaman atau lebih jauh lagi kita bakal tetap ingat kepada asal-muasal kita.

Bagi mereka yang tidak begitu bahagia sehingga tidak bisa mudik, anda masih tetap bisa bersilaturahmi melalui surat, chatting, email, video maupun telepon, sebab kata arti sebenarnya dari silahturahmi adalah mendekatkan hubungan kekeluargaan dari segi aspek psikologis atau rohani saja, tanpa kehadiran jasmani atau fisik. Beda silatu-`rahim" sebab kata tersebut mengandung makna lebih dalam. Kata rahim berarti menyertakan jasmani dan rohani. 

"BALIAK BETUNGGAL MEMBANGUN DUSUN" sampai jumpa di tanah kelahiran Bumi Sekundang Setungguan "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 Syawal 1435 H" Mohon Maaf Lahir dan Bathin

(Dari Kami FIKRI SENADA M,ST dan keluarga)

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN BUMI BENGKULU SELATAN

on Minggu, 29 Juni 2014


JADWAL IMSAKIAH BENGKULU SELATAN

"JADWAL IMSAKIAH BENGKULU SELATAN"
Bagi adiak sanak yang lum dapat jadwal Imsakiah untuk wilayah Dusun kitau Bengkulu Selatan dan sekitarnya, maka dengan senang hati kami berbagi jadwal imsakiah ini..
Silakan utk dishare dan dicopy serta diprint, semoga bermanfaat dan puasa kita sempurna sampai lah tiba hari kemenangan itu....amiiin!!
"Salam Jemau Kitau SATU"

IKASUMA BENGKULU SELATAN

on Jumat, 13 Juni 2014

"IKATAN ALUMNI SMA NEGERI 5 MANNA (IKASUMA) BENGKULU SELATAN"
Saatnya Suara Alumni SMA N 5 Manna BS Berpengaruh...!!

Ikatan Alumni SMA N 5 Manna Bengkulu Selatan

"IKATAN ALUMNI SMA NEGERI 5 MANNA (IKASUMA) BENGKULU SELATAN"
Saatnya Suara Alumni SMA N 5 Manna BS Berpengaruh...!!

Blusukan Ala Grup Jemau Kitau

mu melangkah SESENAI...,
kalu telabuah atau tepeghicul, lemak di apau... (guman niniak dulu)
DENGAN SADAR ATAS KEKURANGAN itu kami yakin terus melangkah utk berbenah dan berubah, untukmu dusun lamanku....!! bismillah..

Catatan Kecil

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Semoga segala kebaikan tercurah kepada yang membacanya (Aamiin)


Kembali aku berpijak disini.  Membunuh setiap detik berharga demi satu perjalanan menembus zona waktu yang mengikis cepat masa. 

Ya Allah, aku berada di pulau yaitu di provinsi sumut tempat para Penyiar Agama Allah Pertama Kali Di Nusantara, menyebarkan syariat mulia dari seseorang yang namanya terpatri paling atas "100 orang yang paling berpengaruh di dunia" dalam suatu buku tebal biru koleksi LRC (Learning Resources Center) milik SMAku dulu.

Aku kini terpaku menatap layar laptop dihadapanku, di kota medan sumut tempat para pejuang-pejuang tanah melayu deli dari segala kalangan mengukir abadi sejarah pertahanan mereka saat pulau sumatera menjadi hamparan lahan perkebunan kolonial belanda, sekitar ratusan tahun sebelum akhirnya ragaku terlepas dari fase alam rahim seorang wanita luar biasa yang Kau jadikan salah satu bagian penting dalam setiap fraksi masa kecilku, hingga saat ini.

Ya Allah, aku disini,.. Medan Sumut. satu dari sekian tempat di dunia yang sempat kusebut dalam untaian asa yang mengawang tinggi menembus cakrawala.

Alhamdulillah, Engkau jemput asaku dalam setiap doa yang mengalir di setiap sujud terakhir sepertiga malam-Mu. Destinasi yang selaras dengan kata polos namun suci harapan yang terucap, delapan belas tahun yang lalu.

Delapan belas tahun berlalu...

Tahun terakhir masa sekolah menengah atas di sudut kota kecil di Provinsi Bengkulu, Padang Kapuk Manna. Megah berdiri di lereng gunung tigau sebelah tebat kacil, tempat kubangan kebau atau kaput (babi hutan). Dulu sering sekali aku para petani menggiring kerbau dan melihat babi hutan mandi kubangan di seblah sekolahku.





 Disana aku menjadi pemimpi. Tak mengenal batas realistis. Bahkan hal-hal konyol yang tidak akan kubahas disini juga menjadi salah satu elemen mimpi besarku.
Aku sering bergelut dalam dimensi khayalanku. Not only me, but also them. Teman-temanku juga masing-masing menggantung mimpi besar mereka disini. Mimpi yang serupa akan menjadi mimpi kita bersama. Hal-hal yang tertulis dalam kesan pesan buku tahunan SMAku. Sedikit geli jika mengingatnya kembali.

Aku merindukan tempat ini, sungguh...

Ya Allah
Se-'aneh' apapun asa yang menggantung disela embun pagi menggantung di pucuk-pucuk daun pohon mangga yang sering kutemui disana, harapan itu masih suci, tulus, tanpa tendensi yang seringkali justru mengalun pahit penuh dusta. Dia selalu indah, menembus sekat realistis paling ujung sekalipun, melintasi samudra kemustahilan paling jelas sekaligus, lantas saat terjatuh, jatuhnya bagaikan si pengembala kerbau dengan ketabahan kerbau memberi hasil yang baik

Asa itu terpatri disini, Ya Allah. Engkau jemput yang terbaik, termasuk memautku di kota kenangan ini.

Ia menggumpal besar, kemudian terpecah, diversi ke segala arah. Satu fraksi berharap-harap cemas merealisasikan masa depanku. Yang lainnya mengisi ruang 'imajinasi' dalam jiwa kesederhanaan-indah yang fana, namun abadi menjadi katalis sendi penggerak pacuan penyemangatku untuk bisa berada di kota ini. Sederhana tapi mengagumkan.

When i don't expect it as much as i want before. It starts fading, and i don't really care 'bout it for several years. It just like my old dreams come true.

Masih sanggupkah aku menggantung asa 'sehebat' dulu di kota impian ini, Ya Allah? Engkau hampir selalu menakdirkan asaku berpaut di tempat ini, hingga sekarang. Membiarkannya menggumpal dan berdiversi ke segala arah. Kadang tersangkut pada hal-hal tak terduga, membuatnya seringkali memacu perilaku paradoks tak terkendali dalam diriku.

Masih bisakah aku 'mendarat sempurna' saat aku harus terjatuh? 

Ya Allah, Sesungguhnya hamba berserah pada-Mu dari segala sesuatu diluar pengendalian hamba.